Pages

Selasa, 25 Desember 2012

Pemimpin Koruptor dan Takdir

Aku berenang dalam sebuah cawan besar, bernama hidup. Hanyut dalam arus takdir. Menyusuri anak sungai yang ku pilih. Hari itu ombak besar. Gelombangnya menghempas orang-orang yang tak bersiap sedia. Teknologi, gaya hidup, dan ideologi mengepung. Banyak orang yang bingung. Ada pula yang teguh, namun mereka sedikit.
Gambar: Peta Indeks Persepsi Korupsi Dunia

Jika cinta memang tak ada di hati para pemimpin, maka keadilan apa yang kau harapkan?
Jika rindu tak lagi hadir, maka apakah pertemuan masih diinginkan?

Seperti tembok-tembok di Gaza. Mereka runtuh, rubuh, dan tak berbentuk. Lantas mereka dibangun kembali. Untuk ke sekian kali. Ribuan kali. Mungkin, jutaan kali hingga dunia berhenti. Maka seperti itulah hati yang aku butuhkan. Maju untuk menyempurnakan yang sudah-sudah.

Ada pula buruh migran yang mencari nafkah di tanah seberang. Mereka tak berbaju. Telanjang tanpa pengetahuan. Rendah keterampilan. Hanya harap dan nyali besar. Banyak yang berhasil, tak sedikit yang sesat. Lumpuh dalam nyali tanpa perhitungan. Mereka nekad, bukan berani. Bila mati, mereka tak syahid, hanya konyol.

Banyak kampung-kampung jompo yang ditinggal anak muda. Mereka ke kota. Dari Sunda Kelapa, hingga Jayakarta. Dari Batavia hingga Daerah Khusus Ibukota. Mereka adalah mahluk dengan gen agraria. Kini beralih menjadi pekerja dan pengusaha. Banyak yang tumbang, kini jadi peminta-minta.

Aku lelah. Dunia berkejar-kejar dengan waktu dan kenaikan harga saham. Subsidi untuk para pengusaha dan penguasa. Buruh hanyalah faktor produksi semata. Mereka tak lebih dari sebuah data dari statistika.

Jika adzan hanya suara yang bersenandung. Bila lonceng gereja hanya mampu berirama. Berarti kita meremehkan Tuhan Yang Esa. Maka tunggu dan nikmatilah derita yang tak berkesudahan, seperti sinetron kejar tayang.

Kita sudah lama berjalan. Kau ada di sampingku. Namun, jika jiwa tak saling sapa, maka apakah kita masih bersama?

Hari ini kita mencaci maki para penguasa. Esok juga. Bagaimana sebuah negeri yang bertumpuk rakyat berdosa, layak dihadiahi Tuhan seorang pemimpin yang adil bersahaja?
Setiap masa ada pemimpinnya. Setiap pemimpin ada masanya. Kita tak berhak mengharapkan sekumpulan kerbau memiliki pemimpin seekor kuda. Sebagaimana kampung pelacur, yang suka melacur, dan akan terus melacur, namun tetap memaksakan pak lurahnya sesuci imam di Masjidil Haram.

Kau ingat bagaimana sendal sering hilang, saat kita pulang mengaji di surau? Belum lagi raskin – beras  miskin, yang dimakan oleh si kaya, lewat tangan pejabat rendah. Rakyat kita memang masih suka maling. Suka mencuri. Lantas, apakah kita masih pantas berharap seorang pemimpin yang bukan koruptor?

Pejabat dan penjahat. Seperti seekor bunglon pada batang pohon. Samar dan sumir. Maya. Tidak jelas. Serupa. Hingga sulit membedakan antara mereka.

Ini bukan zaman Hang Tuah dan Hang Jebat. Orang berbudi dalam kata, bijak dalam laku. Sahabat di ring satu bisa jadi menjadi orang pertama yang menjegal. Mereka bertepuk tangan saat kau berhasil, dan sama keras suara tepukannya saat kau gagal.
Sultan adil dipuja. Sultan tak adil dicerca. Bila Romawi dan Persia bisa celaka. Mengapa tidak dengan Nusantara? Jika akhlak telah bercerai dari sikap. Maka Malaka pun bisa buram, seperti mendung tak berkesudahan. Majapahit runtuh bukan semata karena serangan dari luar, tapi karena Raja-nya tak lagi sehebat Raden Wijaya, dan Hayam Wuruk tak punya orang dekat sehebat Gajah Mada. Cut Nyak Dien dilumpuhkan tidak karena kafir Belanda hebat, tapi karena bisik yang didapat kolonial dari kerabat. Perkokoh tiang, balok, dan kolom. Karena hujan badai tak bisa kita tahan, ia bukan urusan kita. Perbaiki yang didalam, karena hantaman dari luar bukan kuasa kita.

Ku seruput kopi dalam cangkir impor murahan buatan Cina. Karena pengerajin kita tak kuat berlari maraton. Menjaga daya tahan, serangan produk luar negeri. Barang-barang itu seperti tak kelelahan. Mereka berlayar jauh dari daratan Asia Timur, jauh dan berongkos mahal. Anehnya, mereka masih bisa dijual murah di Nusantara. Padahal, jarak Tiongkok, kurang seperti Sabang Papua. Tapi mereka tetap bisa kasih korting yang asoy bagi pembeli. Sungguh anomali.

Terkadang tidak perlu terlalu banyak berpikir sebelum bertindak. Kau tahu kenapa? Karena waktu terlalu singkat untuk berpikir apa yang belum terjadi. Rencana seperti perbuatan mubazir saja. Sabar sayang. Aku sadar lantas kau bergumam. “Itu hanya pendapat mu, orang gila! Majnun!” Tapi kelak kau akan setuju, saat kau liat rencana-rencana itu masuk birokrasi. Kala anggaran telah masuk dokumen. Maka kau banyak bertindak dari berpikir. Karena akal tak lagi jadi raja. Ia telah dikudeta oleh syahwat yang bersemayam di dada dan paha.
Ku pikir-pikir kembali kapan kira-kira bisa bersua. Canda tawa dan gelak tawa. Natural, asli tak reka-reka. Kini dunia kita pecah berkeping-keping, layaknya cermin terhempas di atas ubin. Runyam. Remuk hilang wujud.

Bukan “Aku” yang jadi binatang jalang. Tapi kita. Kita?!
Ya kita! Makanya wakilmu di parlemen juga berlaku seperti kita. Jalang! Kita jalang dan mereka juga.

Suka kritik, tapi tak tahan kritik. Berlaku sesuka hati, yang penting asyik!

Senin, 17 September 2012

Surat Terbuka Untuk Partai Islam Tentang Pemimpin Islam di Jakarta


Sebelumnya, saya ingin menyatakan bahwa saya tidak berafiliasi secara politik dengan partai politik mana pun, tidak pula dengan calon yang diusung oleh partai tersebut.

Dipenghujung tanggal 16 September 2012 ini, saya ingin menyampaikan bahwa Benar, Islam merekomendasikan dengan tegas ( strongly recommend) untuk memilih Pemimpin berdasarkan kesalihan dan ahlak.
Salah satu poin lain dan konsekuensinya adalah dengan tidak memilih Pemimpin dari kalangan di luar Islam. Tanpa berusaha menyederhanakan tentang ilmu politik (fiqih siasah) atau bahkan meremehkan, saya berpendapat bahwa tidak perlu tafsir yang rumit untuk memahami pesan-pesan yang ditulis di Al Quran dan Al Hadits.

Ada satu hal yang menggelitik saya hari ini. Bukanlah tentang boleh tidaknya seorang muslim, memilih pemimpin non muslim, sementara masih ada pemimpin muslim. Namun, bagaimana debat antara Foke-Nara vs Jokowi-Ahok.

Foke-Nara bak seorang juara bertahan, betul-betul kewalahan mempertahankan sabuk juara, saat Sang Penantang mampu memberikan pukulan-pukulan telak di wajah dan perut Foke-Nara. Sementara, Foke-Nara hanya mampu membalas dengan jab-jab yang memiliki poin kecil di depan berjuta pasang mata pemirsa tipi.

Jab-Jab itu kemudian dipaksakan berubah menjadi hook, namun Jokowi-Ahok tak tanggung-tanggung memberikan uppercut yang telak.
Apalagi jika tema-tema yang diusung sungguh menyulitkan Foke-Nara, terutama tema macet.

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri oleh para Partai Islam, bahwa Jokowi (yang konon Kejawen akut) dan Ahok (Non Muslim) dinilai cukup sukses di tempat asal mereka berkarir politik. Dan, hasil putaran pertama merupakan penguatan (affirmativ) atas hipotesa, bahwa kedua mampu mendulang suara dengan baik.

Yang jadi poin penting saya adalah, bahwa Partai Islam seyogya tidak "cuma", bisa menggunakan sebagian ayat namun mengabaikan ayat lain.
Ayat lain apa pula?
Maksud saya adalah ayat tentang bagaimana pemimpin yang dipilih juga harus kompeten (ahli), jujur, adil, serta amanah.
Sehingga, pemimpin yang harus dipilih itu, bukan PEMIMPIN MUSLIM!!!

Minggu, 01 Juli 2012

Pengalaman Saya Mengurus Sertfikat Hak Milik Tanah Ayah di Medan


Sekedar berbagi pengalaman, pada awal Tahun 2012 ini saya baru saja 'berhasil' mengurus sertifikat rumah orang tua yang sebelum hanya 'akta jual beli' bawah tangan atau onder de hand.
Awal mula saya mengurus sertifikat ini sebenarnya sejak awal tahun 2010, jadi kalau dihitung-hitung, sertifikat ini selesai kurang lebih 2 tahun. Namun, jangan negative thingking dulu dengan pihak penerbit sertifikat tersebut a.k.a BPN, lamanya pengurusan tersebut karena beberapa proses sering tertunda karena harus menunggu saya pulang dari tugas di Palangka Raya.

Ok, back to the point, dalam proses yang saya lalui, mulai dari meminta semacam surat "pernyataan" dari Lurah bahwa benar kami (ayah dan keluarga) telah mendiami lokasi rumah sejak tahun 1992, kemudian mengajukan formulir untuk pengurusan yang dilampiri dengan copy "akta jual beli bawah tangan" yang telah dilegalisir oleh notaris. Selanjutnya, kita harus bayar sejumlah rupiah ke Bendahara Penerimaan disana, ada bukti penerimaannya, gak pungutan liar (pungli) kok. (Kalo yang pake calo gak tau ya...).

Kemudian setelah menjalani proses pengajuan, pihak BPN bakalan datang ke rumah untuk melakukan pengecekan keberadaan dan luas tanah serta bangunan. Kemudian, output dari kegiatan itu adalah gambar atas objek tanah bangunan yang diurus.

Setelah itu, gambar tadi akan dicek lagi oleh pihak BPN dan kesesuaiannya dengan dokumen-dokumen pendukung yang ada (prosesnya panjang banget gan....hehehe...sabar, maklum ini konsekuensi gak pake calo, alisan ngurus dewe).